Sabang sebagai titik nol Indonesia tidak hanya dikenal dengan keindahan bawah lautnya, tetapi juga religiusitas masyarakatnya yang kental. Masjid menjadi titik kumpul utama warga maupun wisatawan yang berkunjung. Menyadari peran krusial rumah ibadah, muncul sebuah inisiatif penting bertajuk Gerakan Masjid Bersih HAKLI Sabang yang bertujuan memastikan setiap jemaah dapat beribadah dalam kondisi lingkungan yang sehat dan bebas dari risiko penularan penyakit berbasis lingkungan.
Fokus utama dari gerakan ini adalah melakukan pemeriksaan mendalam terhadap fasilitas yang paling sering bersentuhan langsung dengan fisik jemaah, yaitu alas salat. Karpet masjid, meski terlihat bersih secara kasatmata, sering kali menjadi tempat bersarangnya debu, tungau, dan mikroorganisme jika tidak dirawat dengan standar kesehatan tertentu. Oleh karena itu, langkah cek higienitas menjadi prosedur wajib dalam audit kesehatan lingkungan yang dilakukan oleh para sanitarian di wilayah paling barat Indonesia ini.
Proses pemeriksaan ini melibatkan penggunaan alat ukur kualitas udara dan pengambilan sampel usap pada permukaan serat kain. Karpet yang lembap karena sirkulasi udara yang buruk atau bekas tetesan air wudhu yang tidak kering sempurna dapat memicu pertumbuhan jamur. Jika dibiarkan, hal ini berisiko menyebabkan gangguan pernapasan seperti asma atau alergi kulit bagi para jemaah. Melalui intervensi ini, pengelola masjid diedukasi mengenai pentingnya penggunaan alat penyedot debu (vacuum cleaner) yang memiliki filter HEPA serta jadwal pencucian rutin yang menggunakan disinfektan aman.
Selain masalah mikroba, aspek estetika dan kenyamanan juga menjadi perhatian dalam menjaga karpet ibadah agar tetap layak digunakan. HAKLI menekankan bahwa kebersihan karpet adalah bagian dari pemuliaan terhadap tempat suci. Masjid yang wangi dan bersih secara tidak langsung akan meningkatkan kekhusyukan seseorang dalam berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Edukasi juga diberikan kepada jemaah agar memastikan kaki dalam keadaan kering saat memasuki area salat guna meminimalisir kelembapan pada alas sujud tersebut.
Gerakan ini juga mencakup pemantauan terhadap sistem ventilasi di dalam ruang utama masjid. Udara yang terperangkap tanpa pertukaran yang cukup akan mempercepat akumulasi kotoran pada karpet. Dengan membuka jendela secara berkala atau menggunakan teknologi pemurni udara, risiko polusi dalam ruang dapat ditekan. Para sanitarian di Sabang secara aktif mendampingi pengurus masjid untuk menciptakan lingkungan yang tidak hanya suci secara syariat, tetapi juga higienis secara medis.