Sebagai wilayah kepulauan yang berada di ujung utara Indonesia, Sabang sering kali menghadapi tantangan klasik yang dialami oleh masyarakat pulau luar, yakni keterbatasan akses terhadap air tawar yang layak konsumsi. Meskipun dikelilingi oleh samudera yang luas, sumber air tanah di beberapa titik pulau sering kali mengalami intrusi air laut atau jumlahnya tidak mencukupi saat musim kemarau panjang. Menanggapi situasi ini, HAKLI Sabang mengambil peran strategis dengan memperkenalkan teknologi desalinasi sederhana sebagai solusi mandiri bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pasokan dari daratan utama.
Penerapan teknologi desalinasi yang diusung oleh HAKLI Sabang difokuskan pada metode yang murah, mudah dioperasikan, dan menggunakan bahan-bahan yang tersedia secara lokal. Prinsip dasar yang digunakan adalah distilasi surya, di mana energi matahari dimanfaatkan untuk menguapkan air laut di dalam sebuah wadah tertutup. Uap air yang dihasilkan kemudian mengembun pada permukaan penutup yang miring dan mengalir ke wadah penampungan sebagai air tawar yang murni. Metode ini sangat cocok diterapkan di pulau-pulau luar karena intensitas cahaya matahari yang melimpah sepanjang tahun, sehingga masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya operasional listrik atau bahan bakar yang mahal.
HAKLI Sabang menyadari bahwa kunci keberhasilan implementasi teknologi desalinasi sederhana ini terletak pada edukasi dan pendampingan masyarakat. Para ahli kesehatan lingkungan (sanitarian) secara rutin turun ke lapangan untuk memberikan pelatihan teknis mengenai cara merakit alat distilasi, mulai dari pemilihan material wadah yang aman bagi kesehatan hingga cara menjaga higienitas hasil air olahan. Masyarakat diajarkan bahwa meskipun air hasil desalinasi sudah bebas dari garam, proses penyimpanan tetap harus diperhatikan agar tidak terjadi kontaminasi bakteri. Hal ini merupakan bagian dari upaya perlindungan kesehatan masyarakat melalui rekayasa lingkungan yang tepat guna.
Dampak dari penggunaan teknologi desalinasi sederhana ini mulai dirasakan oleh warga di desa-desa pesisir Sabang. Beban ekonomi keluarga untuk membeli air galon atau menyewa jasa pengangkut air mulai berkurang secara signifikan. Dengan adanya akses mandiri terhadap air bersih, standar sanitasi di tingkat rumah tangga juga meningkat. Air tawar hasil olahan ini dapat digunakan untuk keperluan memasak, minum, hingga sanitasi dasar. HAKLI Sabang menekankan bahwa kemandirian air adalah fondasi utama bagi kesehatan masyarakat kepulauan, terutama dalam mencegah penyakit yang ditularkan melalui air (water-borne diseases) yang sering muncul akibat konsumsi air yang tidak berkualitas.