Sabang, sebagai titik nol kilometer Indonesia yang dikelilingi oleh lautan luas, memiliki potensi besar dalam sektor kelautan, termasuk industri garam tradisional. Namun, ancaman pencemaran laut global berupa limbah plastik kini telah merambah hingga ke level mikroskopis. Memasuki tahun 2026, HAKLI Sabang meluncurkan program pengawasan kualitas pangan laut dengan melakukan agenda periksa kandungan mikroplastik pada berbagai titik sentral pembuatan garam rakyat. Langkah ini diambil untuk menjaga integritas produk lokal sekaligus melindungi kesehatan konsumen dari bahaya partikel plastik yang masuk ke dalam rantai makanan manusia.
Proses produksi garam yang dilakukan melalui penguapan air laut secara alami sangat rentan terhadap partikel asing yang terbawa arus. Tim ahli HAKLI Sabang mengumpulkan sampel dari berbagai tambak garam di wilayah pesisir untuk dianalisis di laboratorium menggunakan teknik mikroskopi dan spektroskopi. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi keberadaan polimer plastik yang berukuran kurang dari lima milimeter. Mikroplastik ini sering kali berasal dari degradasi sampah plastik besar seperti botol dan kantong plastik yang terombang-ambing di samudera selama bertahun-tahun sebelum akhirnya terkonsentrasi di pesisir tempat air laut disadap menjadi garam.
Kekhawatiran terhadap produksi garam lokal di Sabang bukan tanpa alasan. Periksa Kandungan Mikroplastik yang tertelan oleh manusia dapat membawa zat kimia beracun seperti bisphenol A (BPA) dan phthalates yang bersifat mengganggu sistem endokrin. HAKLI Sabang bertugas untuk memberikan panduan teknis kepada para petani garam mengenai cara meminimalkan kontaminasi tersebut, misalnya dengan memperbaiki sistem filtrasi air laut sebelum masuk ke meja penguapan. Inovasi filter sederhana menggunakan karbon aktif dan material alami terbukti efektif dalam menyaring sebagian besar partikel halus sebelum proses kristalisasi garam dimulai.
Data hasil pemeriksaan di tahun 2026 ini menjadi dasar bagi standarisasi mutu garam di wilayah Aceh. Sabang yang memposisikan dirinya sebagai destinasi wisata internasional harus memiliki standar keamanan pangan yang setara dengan pasar global. Dengan adanya audit rutin dari HAKLI, produk garam lokal tidak hanya dilihat sebagai bumbu dapur, tetapi sebagai produk berkualitas yang terjamin keamanannya secara saintifik. Hal ini meningkatkan kepercayaan pasar terhadap komoditas lokal dan memastikan bahwa nilai ekonomi yang dihasilkan dari laut tetap sejalan dengan prinsip kesehatan masyarakat yang berkelanjutan.