Tepat pada hari Rabu, 17 September 2025, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah V mengumumkan penurunan signifikan populasi penyerbuk di kawasan lindung Taman Nasional Gunung Merapi, Jawa Tengah, sebuah sinyal darurat yang harus diperhatikan serius. Kekhawatiran utama adalah bahwa penurunan lebah dan kupu-kupu ini mengancam inti dari ketahanan pangan dan keanekaragaman hayati kita. Inilah mengapa gerakan Menyelamatkan Penyerbuk menjadi kampanye krusial, bukan hanya untuk para pegiat lingkungan, tetapi untuk semua yang bergantung pada hasil panen. Tanpa penyerbuk, yang sebagian besarnya adalah serangga, lebih dari 80% spesies tumbuhan berbunga di dunia tidak akan dapat bereproduksi, termasuk banyak tanaman pangan utama seperti kopi, kakao, buah-buahan, dan sayuran.
Lebah, terutama lebah madu (Apis mellifera) dan lebah soliter lainnya, adalah agen penyerbukan yang paling efisien, menyumbang nilai ekonomi global hingga miliaran dolar melalui peran mereka dalam pertanian. Kupu-kupu, meskipun dianggap sebagai penyerbuk sekunder, tetap berperan penting, terutama bagi tanaman yang bunganya terbuka pada siang hari. Selain tugas penyerbukan, kedua serangga ini juga merupakan mata rantai penting dalam rantai makanan. Larva kupu-kupu (ulat) adalah sumber makanan vital bagi burung, reptil, dan serangga lain, sementara lebah sendiri menjadi mangsa bagi laba-laba dan beberapa jenis mamalia. Terganggunya populasi lebah dan kupu-kupu akan memutus rantai ini dan menyebabkan efek domino yang merusak seluruh ekosistem.
Ancaman terbesar yang dihadapi para pahlawan kecil ini adalah penggunaan pestisida, khususnya jenis neonicotinoid, yang terbukti merusak sistem navigasi dan kemampuan belajar lebah, bahkan dalam dosis rendah. Ancaman lain yang tak kalah besar adalah hilangnya habitat akibat deforestasi dan alih fungsi lahan menjadi monokultur pertanian atau pembangunan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah mencatat bahwa penurunan jumlah area bunga liar di lahan pertanian skala besar secara langsung berkorelasi dengan menurunnya produktivitas penyerbukan alami. Oleh karena itu, langkah-langkah konservasi dan aksi Menyelamatkan Penyerbuk harus segera ditingkatkan.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) telah menggalakkan program “Kebun Pakan Lebah” di berbagai sentra pertanian, seperti yang dilaksanakan di sentra buah-buahan di Malang, Jawa Timur, sejak awal tahun 2024. Program ini mendorong petani untuk menanam tanaman pakan yang kaya nektar dan serbuk sari di pinggiran lahan mereka sebagai zona penyangga. Selain itu, masyarakat umum dapat berkontribusi dengan menanam bunga-bunga ramah penyerbuk di halaman rumah atau di ruang terbuka hijau perkotaan, seperti yang telah diinisiasi oleh Komunitas Taman Bunga Lestari di kota Bogor pada hari Minggu, 20 Oktober 2025. Edukasi publik juga penting; misalnya, Polisi Hutan R. Aditama, seorang petugas BKSDA yang bertugas di kawasan konservasi, kerap memberikan penyuluhan kepada warga desa tentang pentingnya tidak menggunakan pestisida kimia berlebihan di dekat area penyerbukan, sebuah praktik yang efektif untuk Menyelamatkan Penyerbuk.
Secara keseluruhan, Menyelamatkan Penyerbuk adalah investasi langsung untuk ketahanan pangan kita di masa depan. Upaya konservasi tidak memerlukan tindakan besar yang harus dilakukan oleh aparat atau lembaga saja, melainkan koleksi dari tindakan kecil dan konsisten dari setiap individu. Mengganti pestisida kimia dengan solusi organik, menanam bunga yang disukai lebah dan kupu-kupu, serta mendukung petani lokal yang menerapkan praktik pertanian berkelanjutan, adalah langkah nyata yang dapat dilakukan oleh kita semua. Melindungi keanekaragaman hayati ini berarti kita turut menjaga keseimbangan alam dan menjamin bahwa piring makan kita akan tetap terisi dengan buah dan sayuran yang melimpah.