Penyelenggaraan acara olahraga berskala besar selalu menghasilkan sisa konsumsi dalam jumlah yang cukup dominan di area penginapan dan wisma. Sejalan dengan program pengadaan keranjang sampah organik dan anorganik di sekitar wisma atlet, pengelolaan limbah dapur terus dioptimalkan. Proses pemilahan serta pengolahan sisa makanan katering atlet menggunakan metode komposting menjadi solusi ramah lingkungan untuk mencegah penumpukan sampah basah di tempat pembuangan akhir.
Pengumpulan limbah makanan dilakukan setiap selesai jam makan atlet oleh tim kebersihan khusus yang mengoperasikan moda pengangkut tertutup. Berdasarkan panduan pengadaan keranjang sampah organik, sampah sisa sayuran, buah, dan nasi dipisahkan dari kemasan plastik serta bahan non-organik lainnya. Pemilahan yang disiplin menjadi kunci utama keberhasilan fermentasi kompos yang berkualitas.
Sisa makanan yang telah terpilah kemudian dicampur dengan aktivator mikroorganisme dan bahan penggembur seperti serbuk gergaji atau dedaunan kering. Proses pengomposan dilakukan pada unit komposter komunal yang diletakkan di area pengelolaan limbah terpadu kompleks olahraga. Pemutaran dan pemantauan suhu tumpukan kompos dilakukan secara rutin tiap tiga hari sekali.
Dalam waktu beberapa minggu, limbah organik tersebut berubah menjadi pupuk kompos kaya nutrisi yang tidak berbau dan siap digunakan. Hasil pupuk organik ini dimanfaatkan kembali untuk menyuburkan rumput lapangan, tanaman hias, serta pepohonan rindang di sekitar komplek stadion. Siklus daur ulang ini menciptakan sistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Penerapan teknologi pengelolaan sisa konsumsi ini terbukti mampu memangkas biaya pembuangan sampah sekaligus menjaga kebersihan kawasan arena. Edukasi pengelolaan limbah ini diharapkan dapat menginspirasi para pengelola fasilitas olahraga lainnya untuk menerapkan prinsip zero waste.