Secara geografis, Sabang memiliki keterbatasan lahan untuk dijadikan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Oleh karena itu, konsep nol sampah bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan demi kelestarian ekosistem laut dan daratan. Dalam Analisis Teknis HAKLI Sabang, ditemukan bahwa sebagian besar komposisi sampah di pulau tersebut adalah limbah organik dan plastik sekali pakai dari aktivitas rumah tangga dan pariwisata. Dengan menerapkan sistem pemilahan sampah sejak dari sumber, beban sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan hingga lebih dari tujuh puluh persen. Hal ini memberikan secercah harapan terhadap pertanyaan Mungkinkah Terwujud? jika ada komitmen kuat dari seluruh pemangku kepentingan.
HAKLI Sabang menekankan pentingnya adopsi teknologi pengolahan sampah berbasis komunitas, seperti bank sampah dan pusat komposting di tingkat desa (gampong). Pengolahan sampah organik menjadi pupuk atau energi alternatif dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga lokal. Namun, tantangan terberat adalah pada sampah anorganik yang sulit didaur ulang di dalam pulau. Melalui Analisis Teknis HAKLI Sabang, disarankan agar pemerintah daerah membangun kerja sama dengan industri daur ulang di daratan Aceh untuk pengiriman sampah residu secara rutin. Tanpa sistem logistik yang baik, tumpukan sampah di pulau akan menjadi bom waktu bagi lingkungan pariwisata.
Penerapan regulasi yang tegas terhadap penggunaan plastik sekali pakai di kawasan wisata juga menjadi rekomendasi utama dalam Sabang Zero Waste. Para ahli kesehatan lingkungan mengusulkan agar setiap pelaku usaha pariwisata memiliki standar pengelolaan limbah mandiri sebelum mendapatkan izin operasional. Kesuksesan visi ini sangat bergantung pada edukasi yang diberikan kepada para wisatawan. Jika setiap pengunjung memiliki kesadaran untuk meminimalkan sampah, maka beban pengelolaan di tingkat daerah akan sangat terbantu. Jawaban atas Mungkinkah Terwujud? sangat bergantung pada sejauh mana perilaku masyarakat dan pendatang dapat diubah melalui kebijakan yang konsisten dan berwawasan lingkungan.
Selain itu, aspek pendanaan dan keberlanjutan operasional fasilitas pengolahan sampah harus dipikirkan secara matang. Dalam Analisis Teknis HAKLI Sabang, diusulkan adanya dana retribusi kebersihan yang dialokasikan khusus untuk pemeliharaan alat-alat pengolahan sampah modern seperti insinerator ramah lingkungan atau mesin pemilah otomatis. Kehadiran tenaga ahli kesehatan lingkungan yang memantau kualitas udara dan air di sekitar lokasi pengolahan sampah juga penting untuk memastikan bahwa proses pengelolaan limbah tidak justru menciptakan polusi baru. Sabang memiliki potensi besar untuk menjadi model nasional bagi pengelolaan sampah di wilayah kepulauan jika program ini dijalankan dengan data yang akurat.