Sabang sebagai destinasi wisata unggulan di ujung barat Indonesia memiliki pesona alam bawah laut dan pantai yang sangat eksotis. Namun, popularitas ini membawa konsekuensi pada meningkatnya volume limbah yang dihasilkan oleh aktivitas perhotelan, restoran, dan transportasi. Untuk mendukung konsep wisata hijau Sabang, diperlukan manajemen sanitasi yang terpadu agar keindahan alam tetap terjaga dari ancaman pencemaran. Penerapan sistem pengolahan limbah yang modern dan efektif menjadi kunci utama agar sisa aktivitas manusia tidak merusak ekosistem terumbu karang yang sensitif. HAKLI berperan penting dalam memberikan rekomendasi teknis mengenai standar higiene transportasi laut demi menjamin kenyamanan dan kesehatan para wisatawan selama berkunjung. Melalui pendekatan yang ramah lingkungan, para praktisi HAKLI berupaya memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata tetap berjalan selaras dengan prinsip-prinsip pelestarian alam yang berkelanjutan.
Pengolahan limbah cair dari sektor perhotelan menjadi fokus utama karena limbah ini mengandung kadar organik tinggi yang dapat memicu pertumbuhan alga berlebihan di laut. HAKLI mendorong para pelaku usaha untuk membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) mandiri yang mampu menetralisir zat berbahaya sebelum dialirkan ke lingkungan. Penggunaan bakteri pengurai dan Sistem Pengolahan Limbah bertingkat sangat disarankan untuk memastikan air sisa tersebut memenuhi standar baku mutu lingkungan. Dengan air laut yang jernih dan bebas dari polutan, daya tarik wisata Sabang akan tetap terjaga dan memberikan kepuasan bagi para penyelam serta wisatawan mancanegara yang datang untuk menikmati keasrian alam.
Selain limbah cair, pengelolaan sampah padat di pulau-pulau kecil memerlukan strategi khusus karena keterbatasan lahan tempat pembuangan akhir. Sistem pemilahan sampah sejak dari sumbernya menjadi kewajiban yang harus diterapkan di setiap penginapan dan area publik. Sampah plastik dan kemasan lainnya harus dikelola dengan sistem daur ulang untuk mengurangi tumpukan limbah di daratan. HAKLI bersama pemerintah daerah juga menginisiasi program pembuatan kompos dari sampah organik sisa makanan restoran untuk digunakan sebagai pupuk tanaman hias di area wisata. Konsep sirkularitas ini tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomis bagi masyarakat lokal yang terlibat dalam pengelolaannya.