Zero Waste Challenge: HAKLI Sabang Dorong Model Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas

Sebagai gerbang barat Indonesia yang memiliki keindahan alam bahari luar biasa, Sabang—khususnya Pulau Weh—menghadapi dilema serius akibat peningkatan volume sampah, terutama sampah pariwisata. Menanggapi situasi ini, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Sabang meluncurkan inisiatif ambisius: Zero Waste Challenge. Tujuannya adalah mendorong model Pengelolaan Sampah yang tidak hanya efisien tetapi juga berbasis komunitas, mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) dan mencemari laut.

Filosofi Zero Waste yang diusung HAKLI Sabang didasarkan pada prinsip 5R: Refuse (menolak), Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang), dan Rot (mengompos). Zero Waste Challenge ini berfokus pada perubahan perilaku di tingkat sumber, yaitu rumah tangga, pelaku usaha pariwisata, dan kantor pemerintahan. HAKLI Sabang aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menolak penggunaan plastik sekali pakai, membawa wadah sendiri, dan memilah sampah secara ketat sejak di rumah. Program ini menekankan bahwa kunci keberhasilan Pengelolaan Sampah bukan pada teknologi pemusnah akhir, melainkan pada pencegahan di awal.

Model Pengelolaan Sampah berbasis komunitas yang didorong oleh HAKLI mencakup pembentukan Bank Sampah di setiap desa atau gampong. Bank Sampah berfungsi sebagai pusat pengumpulan dan pemilahan sampah anorganik bernilai ekonomis. Sampah yang sudah dipilah akan dijemput secara berkala, dan hasilnya kembali ke masyarakat dalam bentuk tabungan atau kegiatan sosial. Untuk sampah organik, HAKLI mengajarkan teknik pengomposan sederhana (seperti komposter takakura atau biopori) kepada rumah tangga, mengubah limbah dapur menjadi pupuk bagi kebun rumah tangga.

HAKLI Sabang juga menargetkan sektor pariwisata dalam Zero Waste Challenge ini. Mereka memberikan Rekomendasi dan pendampingan teknis kepada hotel, restoran, dan dive center untuk meminimalkan limbah mereka. Rekomendasi ini mencakup instalasi pemisah minyak dan lemak, penggunaan peralatan makan yang dapat digunakan berulang kali, dan pengadaan produk dari sumber yang ramah lingkungan. Hal ini penting karena peningkatan kunjungan wisata adalah penyumbang terbesar peningkatan volume sampah di Sabang.

Keberhasilan implementasi model Pengelolaan Sampah berbasis komunitas dan Zero Waste Challenge ini memerlukan dukungan kuat dari pemerintah daerah melalui kebijakan insentif dan regulasi. HAKLI mendesak Pemda Sabang untuk memberikan insentif pajak atau retribusi bagi pelaku usaha yang berhasil mencapai target pengurangan sampah. Melalui upaya terpadu ini, Sabang tidak hanya akan menjaga keindahan alamnya tetapi juga menjadi destinasi wisata yang berkelanjutan dan bersih, membuktikan bahwa filosofi Zero Waste adalah solusi praktis untuk masa depan lingkungan.